……………..
Panas.
Telanjang Dada.
Rokok Kretek.
Segelas Besar Air Putih.
………………..
Komputer.
Duduk di depan komputer butut-ku, dengan monitor 14 inci yang setiap 15 menit mati tiba-tiba dan tampilan cahayanya yang sudah meredup (sudah sulit menentukan warna sebenarnya dari tampilan monitor ini). Aku sudah tidak dapat bekerja lagi dengan sempurna. Karena pekerjaanku sangat bergantung pada keakuratan warna antara monitor dan hasil yang dikeluarkanya. Seperti cetak-mencetak undangan, buku, dan hal-hal lain sejenis. Dengan penampilan CPU (Central Processor Unit) yang ‘bodong’, DVD ROM (Read-On Memory, teman-temanku kadang suka salah menyebutnya dengan sebutan Room atau kamar) yang sudah tidak dapat lagi membaca format Digital Versatile Disc, jadi buat apa dong? Floppy Disk 1,4 Mega bytes yang sudah tidak ada kabelnya lagi. Speaker Dengan Sub Woofer, yang sudah tidak terdengar suara bass-nya. Sisi kiri CPU-ku yang hilang dinding sebelah kirinya, dengan kabel yang menjalar kemana-mana (aku malas merapihkannya). Dan tidak lupa debu setebal setengah millimeter di dalam kotak CPU-ku, yang tidak pernah kubersihkan selama satu tahun belakangan ini.
Tuh kan, baru saja kutulis, monitorku sudah sekarat. Sial.
Aku suka kesal sendiri ketika monitor ku berkelakuan seperti itu, kadang malah aku pukul monitor itu dengan tanganku sendiri (emosi). Sebenarnya juga bukan dia yang salah, akunya saja terlalu emosi sudah seharusnya membeli monitor baru. Maksudku seluruh perangkatnya juga, termasuk CPU.
Komputer pertamaku datang pada saat aku kelas 4 SD. Pada saat itu tidak secanggih sekarang, warna primer monitornya hanya ada 3 (tidak termasuk hitam dan putih) yaitu merah, hijau dan kuning, kalau tidak salah, aku tidak terlalu ahli dalam hal ini. Bahkan sekarang sudah memakai sistem jutaan warna, yang dapat menampilkan warna sejernih warna aslinya, dengan kalibrasi yang dapat diatur sendiri ataupun dari sistem yang sudah disediakan. Yang aku ceritakan saat ini adalah komputer kedua oleh-oleh dari bapakku.
Duniaku saat itu langsung berubah seketika, sudah jarang lagi aku bermain getok lele, layangan (walaupun aku hanya senang melihat temanku yang menaikkannya), ngobrol bersama teman-teman di depan rumahku sampai maghrib. Aku dan teman-temanku sering bermain layangan di lantai 2 rumahku. Dulu sebelum menjadi kamarku, lantai dua hanyalah tertutup oleh atap genteng, yang biasa dipakai untuk tempat jemuran ketika hujan.
Yang aku lakukan adalah sepulang sekolah aku tidur siang sebentar, lalu bangun, dan menyalakan komputerku.
Entah kenapa setiap bermain getok lele atau sepak bola selalu bermain di depan rumahku, dan aku kebagian sial untuk menyediakan air minum setelah bermain. Memang dari dulu rumahku adalah tempat berkumpul teman-temanku.
Ketika aku terlalu senang dengan mainan baruku, yaitu computer. Aku berpikir, sepertinya ada yang hilang. Tapi apa ya? Aku berpikir cukup lama. Ternyata timbul satu pertanyaan : Motor vespa bapakku dimana ya?
jawabannya : Motor dijual diganti dengan satu monitor, satu CPU, satu mouse dan keyboard, beserta printer yang bisa diisi ulang tintanya. Padahal saat itu aku sudah bermimpi untuk belajar mengendarai motor.
Sial.
Setelah itu aku bermain dengan teman-temanku di hadapan komputer yang menurut pandangan kita (aku dan teman-teman bermain) sangat canggih! Hebat! Bisa membuat bunyi-bunyian, menulis dengan meminimalisasikan kesalahan, dan mampu menggambar dengan satu alat. (waktu itu belum berkembang CD-ROM jadi masih memakai Floppy Disk pipih yang besar dan hanya mampu menyimpan 1,2 mega bytes (kalo gak salah). Lumayanlah untuk memuat sekitar 5 atau 8 gambar porno), dan untuk dilihat bersama-sama teman-temanku pada umur seperti itu. Mencuri kesempatan pada saat bapakku pergi ke kantor dan ibuku mengantarkan adik ke sekolah. Hehehe….
Mau jadi apa kelas 4 SD sudah melihat gambar tidak senonoh.
Ck…ck…ck…
Sebelum itu aku sering main perang-perangan bersama teman-teman (pengaruh televisi).
Ada suatu waktu di belakang rumahku pada saat itu sedang membangun rumahnya, banyak sekali tumpukan batu bata disana dan pasir tentunya.
Dengan bersemangat…
sialan! Monitor ini lama-lama membuatku kesal
Aku dan teman-teman mulai membangun barikade dengan tumpukan batu bata, sekitar 1,5 meter tingginya dan berbentuk kotak 2 x 2 meter, serta tak lupa lubang intip untuk mengintai musuh, depan belakang dan samping seukuran satu batu bata setinggi pandangan mataku. Padahal juga tidak ada yang diintai, paling cuma tukang bangunan yang heran melihat kami bercanda. Setelah bangunan barikade itu selesai, kita pulang.
Loh?
Yah memang pada saat itu aku hanya senang pada saat membangunnya. Bagaimana cara memainkannya coba?
Itu masih belum seberapa, di sebelah rumah itu ada lubang sampah sebesar 3×3x2 meter. Aku bersama teman-teman segera mencari akal untuk membuat sesuatu.
Apa ya? Apa ya? Bikin rumah-rumahan yuk!
Aku dan ketiga sahabatku segera membangunnya. Tidak lupa untuk membuat tangga dari sisa-sisa kayu bangunan dengan paku dan memalunya dengan batu.
Untuk apa? Ya, untuk turunlah! Mau loncat?
Semua serba kebetulan, tepat disebelah lubang itu ada pohon kelapa tanpa buah, pendek dan lebat.
Mau apa lagi coba?
Daun-daun kelapa yang lebat itu kita tarik satu-satu dan kita susun perlahan membentuk atap dari lubang itu.
Nah atap sudah selesai, tangga sudah selesai, lantainya belum teman-teman!
Dengan inisiatif mengambil puing marmer untuk menyusunnya menjadi lantai yang apik (menurut kita sih). Semuanya sudah jadi!
Apa lagi ya?
Masih ada yang kurang sepertinya. Hmmm…
Kita perlu TV! Hah dapat darimana anak kecil TV? Untuk ditaruh di lubang sampah lagi!
Dengan inisiatif (lagi) anak kecil, mengambil potongan tripleks bekas dan mengambil kapur di rumah (kapur yang dicuri dari sekolahan secara diam-diam biasanya aku mengambilnya hanya satu atau dua, tetapi sering). Kapur itu aku gambar tombol-tombol dan layar TV, dan tidak lupa sebuah adegan di TV entah apa itu aku sudah lupa, dan menggantinya setiap dua jam atau paling tidak kalau sudah bosan dengan gambar itu. Jadilah TV.
Apalagi ya?
Gelap sepertinya, oh iya kita butuh lampu! Lampu? Listrik dari mana? Kan ada lilin bukan? Oh iya.
Bla…bla…bla…. Jadilah lampu. Hebat kan. Aku dan ketiga sahabatku duduk-duduk sambil ketawa-ketawa melihat TV.
Oh iya, ternyata ada yang lebih parah dari itu, aku belajar jadi pembunuh (aku minta maaf kepada teman-teman pecinta hewan). Kejadiannya seperti ini, saat itu (yah aku masih bercerita saat aku masih duduk di sekolah dasar), musim penghujan.
Hujan sudah mulai reda dari derasnya yang telah merubuhkan pohon tetanggaku, sudah agak sore, aku memanggil teman-teman untuk melanjutkan bermain di rumah-rumahan tempat sampah. Teman-teman sudah bosan rupanya, kita mencari mainan lain yang bisa diajak bercanda. Kita mulai menyusuri bangunan rumah itu yang setengah jadi. Mulai dari awal pintu masuk, ke dalam bangunannya yang masih penuh dengan palang-palang kayu untuk menahan semen yang belum membeku pada atap rumah. Paku bertebaran dimana-mana, untung aku memakai sandal jepit karet kebanggaanku, yang sudah tertusuk paku berkali-kali. Aku berpisah dengan teman-teman, aku menyusuri pinggiran rumah dan kutemukan kolam kecil. Agak keruh airnya, aku perhatikan dengan seksama, ada sesuatu yang bergerak-gerak.
Wah ada kecebong!!!
Aku segera mengambil inisiatif untuk mengambil suatu wadah, yang kutemukan saat itu adalah ember bekas cat. Aku segera berlari-lari kecil menuju kolam itu, dan mengambil kecebong itu dengan tanganku. Kupanggil teman-temanku, teman-temanku ternyata sedang membakar kayu, karena saat itu dingin.
Darimana mereka dapat api ya? Ya sudahlah aku tidak terlalu memikirkannya.
Iseng. Mau apa lagi ya? Dengan pikiran yang entah kemana. Aku membuat tumpukan batu bata di sekitar kayu bakar itu, seperti tumpukan untuk membakar sate atau sejenisnya. Dan aku menaruh kaleng cat itu di atas api.
Mendidih.
Dan aku kegirangan melihat kecebong itu loncat-loncatan keluar kaleng cat.
Maghrib.
Dari kejauhan suara mamah memanggil….
Bubar.
Mamah dan Bapak.
Ayo mandi dulu, badan kotor gitu. Sholat maghrib jangan lupa. Iya mah.
Sehabis mandi, sholat maghrib, makan, satu jam belajar dan mengerjakan PR sampai jam 8 malam. Nonton TV atau main komputer sampai jam 10, lalu tidur. Rutinitas yang aku kerjakan hingga kelas 1 SMU, setelah itu kacau balau. Tidak pernah belajar, bermain terus. Bahkan saat UMPTN aku tidak belajar sama sekali. Waktu itu UMPTN di adakan selama dua hari. Aku kedapatan tempat di SMP 1 Cikini, sebuah gedung sekolah yang bersejarah, kata orang-orang karena dulu adalah bekas stasiun kereta di zaman penjajahan Belanda.
Malam pertama sebelum UMPTN, aku malahan mengerjakan buku tahunan dengan teman-teman. Begadang. Tidak tidur sama sekali.
Pagi Ujian.
Jawaban ngaco.
Yang penting terisi, UMPTN kan masalah untung-untungan saja. Nothing to Loose.
Malam kedua, aku pergi ke Parkir Timur Senayan, menonton konser /rif sebuah band rock terkenal Indonesia.
Sampai pagi. Begadang.
Pagi ujian.
Jawaban ngaco.
Selesai UMPTN pergi ke Ancol, melihat-lihat pemandangan.
…………..
Bangun jam 5, eh maaf jam setengah 6 (terlalu sering untuk tidak solat subuh), mandi 5 menit, sarapan 10 menit, menunggu adik selesai mandi, enam lima belas berangkat ke sekolah berdua dengan adik. Lalu menjemput teman depan rumahku untuk berangkat ke sekolah bersama. Sampai setengah tujuh. Menunggu bel lalu belajar. Bla…bla…bla…pulang!!!
Percaya atau tidak, sampai kelas 2 SD aku selalu bersama mamah. Dari berangkat sekolah, jam istirahat, pulang sekolah. Bahkan aku menangis sekeras-kerasnya ketika aku ditinggal mamah pergi, sampai aku harus menggedor sekeras-kerasnya pintu dari dalam rumah walaupun cuma ke rumah tetangga.
Manja? Pasti.
Tidur pun aku sama mamah walaupun aku punya kasur sendiri di samping tempat tidur mamah. Bapakku jarang tidur dengan mamah, paling dia bermain komputer dulu baru setelah mamah dan aku tidur dia masuk ke kamar. Keluarga bahagia.
Masakan yang enak?
Ya masakan mamahku, aku paling suka makan orek tempe atau tempe bacem atau tempe biasa yang baru selesai dimasak jadi masih garing.
Kok tempe?
Biar saja.
Kalau makanan jajanannya aku paling suka ampiang makanan kecil dari gula merah dan ditengah-tengahnya ditaburi kacang tanah. Waktu pertama aku beli ukurannya sebesar bungkus rokok, semakin lama semakin mengecil hinga seukuran setengahnya. Mamah selalu membelikanku di warung dekat rumah. Kalau aku yang membelinya ke warung itu pemiliknya sudah tahu kalau aku ingin membeli apa. Bahkan kalau tidak ada uang aku diberinya gratis. Enak ya jadi anak kecil? Kalau gak dapat tinggal nangis saja.
Sekarang kalau aku mencarinya setengah mati, susah. Bahkan kalau ada rasanya sudah tidak se-fantastis dulu.
Dan Penjual warung itu sudah meninggal.
………………………
Setelah tidur siang aku bermain komputer, lalu bapakku pulang.
Tiba-tiba….
Ada software baru nih!!
Apaan?
Adobe Photoshop!
Apaan tuh?
Bapak juga gak tau. Coba aja.
Kelas 3 SMP, ngutak-ngatik photoshop (lupa seri berapa). Saking senangya. Malas. Tidak mengutak-atik komputer lagi setelah kelas 1 SMU.
……………………………
Musim berganti. Awan sering terlihat hitam dengan hujannya yang mengagetkan. Mengagetkan pengendara motor tentunya. Untuk berteduh di sebuah jembatan fly-over. Seperti kerumunan lalat yang sedang menjilati mangsanya. Buru-buru mengambil jas hujan, memakainya dengan cepat, menyalakan motor lagi, lalu hujan berhenti.
Capek.
…………………..
Kembali ke kelas 1 SMP.
Sudah mulai jarang pulang dan mulai membentuk grup band. Grup band rock, niatnya sih. Pertama kali latihan, secara terpaksa mengambil posisi pemain bass.
Gimana cara maininnya nih?
Pencet-pencet aja, ikutin konci gitar gw.
Hah?
Kelas 1 SMP.
Lagu pertamanya, When I Come Around-nya Green Day.
Latihan kedua, tambah satu lagu Basket Case-nya Green Day.
Latihan Ketiga Bendera Kuning-nya Betrayer.
Sering latihan gak pernah manggung.
Kelas 2 SMP.
Lagu Radja dan Bunga-nya /rif.
Kenal cewek dan ganja (walaupun tidak kecanduan, cuma nyoba).
Kelas 3 SMP.
Lagu Genit-nya Tipe-Ex. Dan Lagu Positive Mental Attitude-nya Kemuri.
Pentas Seni.
Akhirnya manggung.
…………………………..
Pulang sekolah, hujan deras. Wah hujan-hujanan enak nih. Pulang sekolah kering sampai rumah basah. Melihat teman-teman bermain di rumah tetangga.
Main apa? Main seluncur-seluncuran.
Karena kebetulan lantai di rumah temanku licin dan bisa main seluncuran. Dengan cara kaki ditekuk Seperti duduk tahhiyat awal dalam sholat. Lari pelan, menjatuhkan diri dan berseluncur. Senangnya hari itu. Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, wah saatnya pulang nih. Lirik-lirik ada bapak gak ya? Diam-diam lari lewat samping rumah menuju halaman belakang. Cuci kaki, lepas baju dengan buru-buru. Mengambil handuk yang tergantung di jemuran belakang. Meluncur ke kamar mandi, bersegera ke kamar (saat itu aku sudah punya kamar sendiri dan tidur sendiri dengan kasur per yang beratnya satu ton). Ganti baju, sisiran.
Aman.
Bapak tidak melihat. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, aku gugup. Bapakku masuk, aku masih menyisir di depan kaca.
Dan….Ctaarrr!!
betisku terasa perih, kemoceng jadi cambuk di tangan bapakku untuk memukulku karena hujan-hujanan (yah waktu itu aku lagi sakit sebenarnya jadi dilarang).
Kamu itu ujan-ujanan, ga tau apa kamu sakit!
Aku sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi, Kakiku perih, Mataku berkaca-kaca. Bapakku keluar kamar. Aku menangis.
Sakit.
Mamah datang, menasihatiku dan aku tertidur di pelukannya. Sampai lupa mengerjakan PR dan sholat maghrib, lalu terbangun keesokan harinya.
……………………….
Berbicara mengenai PR atau tugas sekolah, di rumah yang mengajariku membaca adalah mamah yang mengajariku eksakta adalah bapak. Kalau dia mengajarku aku seperti mendapati guru killer pribadi di rumahku. Walaupun tidak sampai memukul, hanya waktu itu saja.
Kamu tahu gak netto? Brutto?
Nggak. Apaan sih?
Tiba-tiba bapakku keluar mengambil botol susu adikku dan baskom berisi air. Lalu dia mendekatiku di meja belajar. Dia mengisi botol susu dengan air dan menumpahkannya lagi, begitu berulang-ulang.
Ngerti gak?
Nggak.
Iya lah aku juga belum jelaskan bagian ini.
Dia mengisinya dengan penuh, lalu dia menunjukkannya padaku. Ini namanya bruto.
Kok?
Kalau kamu mengisinya dengan penuh, dan kamu menghitungnya dengan botol itu, itu namanya brutto. Ngerti?
Ngerti. (dengan terpaksa setelah berulang-ulang)
Lalu dia menumpahkan airnya ke dalam baskom yang belum terisi air. Lalu dia mengatakan ini namanya netto.
Kok?
Kalau kamu hanya menghitung isinya saja namanya netto. Dan kalau ada sisa-sisa yang belum ditumpahkan atau terbuang namanya tarra.
Ngerti?
Ngerti. (Setelah berulang-ulang)
Untung saja aku anaknya bukan muridnya.
Bapakku seorang dosen perikanan di sebuah akademi dimana murid-muridnya adalah taruna, dimana pendidikannya adalah semi-militer dan berbentuk asrama. Kalau bapakku marah dia tak segan-segan menempeleng muridnya.
Sakit.
Kadang-kadang bapakku suka membawa oleh-oleh dari kantor entah itu berguna atau tidak. Biasanya makanan. Tetapi waktu itu beda, dia membawa mainan kertas berbentuk ikan.
Buat apa pak?
Gak tau ngambil aja, nganggur di kantor.
Oh.
Kuambil mainan itu dan kugantung di kusen jendela kamarku.
Kamar.
Ikan mainan itu bergoyang-goyang ditiup angin. Lincah kesana kemari karena angin waktu itu cukup kecang. Kamarku ada di lantai atas, tepat di atas dapur. Kalau kau memperhatikan tangga yang menuju ke kamarku mirip tangga yang ada di geladak kapal. Maklumlah bapakku seorang pelaut dan Mamahku ibu rumah tangga.
Maksudnya?
Gak ada hubungannya sih. Cuma mao ngasih tau aja.
Oh.
Sebelumnya aku sudah ceritakan aku sudah pisah kamar dengan mamah kelas 1 SMP. Kamarku dulu di lantai bawah di sebelah kamar mamah. Dan sekarang menjadi kamar adikku yang pertama. Adikku ada 2, bedanya 5 dan 9 tahun denganku, keduanya perempuan.
Isi kamarku adalah komputer, tempat tidur per satu ton, lemari pakaian besar dan meja belajar. Kamarku besar, tetapi entah kenapa terasa sempit. Jendelanya dibuat dari kaca bekas, dan kayu bekas bangunan. Disusun sedemikian rupa dan kokoh hingga berbentuk jendela.
Karena bapakku adalah orang yang senang menggunakan barang bekas yang masih bisa terpakai, kalau kau datang ke kamarku yang baru, di samping kamarku ada loteng yang isinya adalah jala, jala, jala, jaring, pancingan, kayu balok, kayu balok, kayu balok, kayu reng, papan, kardus bekas TV, bekas kulkas, bekas kompor gas, kipas angin, radio tahun 70an, piringan hitam, pita kaset yang masih berbentuk gulungan sebesar piringan hitam, pispot, lembaran-lembaran kertas usang, besi, tali plastik, anak kucing, ibu kucing, tai kucing, keluarga tikus, laba-laba, kalajengking, kecoa, tali tambang, tali kain, tali jaring, tali jala, tali pancing, alat membuat jaring dan sebagainya.
Kan sudah kubilang bapakku pelaut.
Dulu juga pemusik sih katanya, walaupun cuma sebagai sound engineer saat pentas, mengingat dulu belum ada alat monitor mixing yang bagus dan kesukaannya adalah musik blues.
Beberapa waktu yang lalu, saat kamarku masih di lantai bawah. Siang hari aku sedang tertidur, tiba-tiba….
Praaaanggg!
Kaca jendelaku copot (berumur 3 bulan), dan pecah untung pecah hanya 1/10 dari keseluruhan kacanya. Jadi masih bisa dipasang lagi dengan konstruksi yang menawan. Alhasil, waktu itu aku punya jendela kamar satu-satunya yang memiliki celah yang agak besar di bagian ujung sebelah kanan. Dengan kreatifitasku aku menambalnya dengan kertas (Dulu belum tahu yang namanya tukang betulin jendela).
Dan kejadian itu terulang lagi setelah 6 setengah tahun, semester 4 kuliah.
Aku pulang dari rumah temanku jam 2 pagi. Orang di rumah sudah tidur semua, aku tidak membawa kunci rumah. biasanya aku naik ke atas, melewati belakang rumahku, menuju ke kamarku. Aku berharap bisa membuka pintu dari belakang kamar. Sampai di atas dengan susah payah, karena konstruksi bangunannya juga bukan untuk memanjat. Dan, aku baru ingat, kamarku tidak ada kunci. Pintu kamarku terbuat dari papan tulis satu ton yang di belah dua (di ambil dari kantor bapakku, karena bapakku sering membawa oleh-oleh), dan disusun sedemikian rupa membentuk sebuah pintu tanpa lubang kunci, hanya dengan sebuah slerekan besi kecil yang menguncinya dari dalam.
Aduh. Bagaimana ini?
Aku punya akal, masuk melalui jendela saja.
Patut diketahui, konstruksi jendela kamarku yang ini terbuat dari papan boks bayi adikku yang paling kecil, karena dia sekarang sudah masuk SD jadi tidak memerlukannya lagi.
Karena jendela itu dibuka secara menyamping bukan dari bawah ke atas.
Apa sih?
Aku mencoba menariknya perlahan dari luar, bagian atas jendela itu kutarik perlahan, karena takut pecah, mengingat kaca itu tipis untuk sebuah jendela kamar. Aku memasukkan tanganku dari atas jendela perlahan, mencari slerekan kunci yang terletak di bawah.
Di bawah?
Sial aku baru ingat slerekan itu ada di bagian bawah jendela, sudah terlambat tanganku sudah terjepit, dan aku harus menarik kembali tanganku dengan perlahan.
Dan Kraakkk….Praaanngggg!!!
kacaku jatuh ke bawah (hanya kacanya saja bukan kamarku) tepat 2 inci dari kakiku yang hanya memakai sendal, kalau tidak percaya hitung saja.
Pecah….
Dan pecah ini tidak beruntung lagi, karena pecah berkeping-keping. Kepingnya sebesar setengah meter, jadi tidak terlalu kecil dan terlalu malas untuk membersihkannya.
Hening…
Untung saat itu hujan turun cukup deras, jadi suaranya tidak membuat orang di rumah atau tetanggaku atau bahkan satpam depan kompleks terbangun.
Aman.
Aku masuk kamarku melalui jendela tanpa kaca.
Diam-diam. Ganti baju, dan membersihkan kaca itu. tidur terbangun esok hari.
Dan dengan kreatifitasku aku menambal jendela itu dengan tripleks. Ya karena kertas terlalu kecil untuk jendela berukuran 1 kali setengah meter.
………………………………
Musim Kemarau.
Aku sering kesal karena musim kemarau (tidak baik kesal dengan sebuah anugerah).
Panas, panas dan panas. Sekonyong-konyong, temanku datang untuk bermain, masu ke kamarmu dan berkata
Sumur lo kering? (sebuah pertanyaan halus untuk meminta minum)
Sial.
Entah sengaja atau tidak. Memang sumurku kering!
Setiap musim kemarau, sumurku kering, mesin pompa ku, bukan yang dibilang oleh orang-orang jet-pump atau entah apa namanya itu. Aku harus mengambil sekitar 2 ember air untuk “memancing” air keluar dari sumur. Setiap hari, itu kalau aku di rumah. Kalau sudah jalan 3 minggu, pompaku sudah tidak mampu menghisap air. Beruntung masih ada pompa hidrolik cap Dragon, dengan tenaga tangan. Pompa itu sudah jarang di jual di pasaran sekarang,
iya lah. Buat apa?
Orang sudah ada yang lebih canggih. Masih saja memompa dengan tangan.
Bahkan lebih parah ketika itu semua sudah tidak berfungsi aku harus meminta ke tetangga. Dalam kasus ini, tetangga itu berjarak 3 rumah dari rumahku. Selang tidak cukup mengatasinya. Jadi aku harus mengambilnya dengan ember sampai semua bak di rumahku penuh. Itu untuk satu hari. Bayangkan kalau setiap hari selama musim kemarau.
………..
Tadi aku istirahat sebentar untuk mengambil minum di lantai bawah. Bapakku tidur sambil memegang rokok yang masih menyala.
Kok bisa ya? Aku segera membangunkannya. Untuk tidak terjadi kebakaran lagi.
Lagi?
Iya, dulu di tempat yang sama.
Ditempat yang sama?
Iya, di tempat bapakku tidur sekarang, atau tadi saat aku turun dan menulis ini.
Terjadi kebakaran kecil yang membuat heboh sedunia. Dengan kejadian seperti yang sama dan hampir terjadi tadi. Kebakaran dengan menggunakan sepuntung rokok. Dan Mamahku yang kalang kabut setengah mati dan memarahi bapakku habis-habisan.
Ah, Bapakku…
…………………..
Aku masih ingin bercerita. Kalau kau datang ke kamarku yang sekarang, bukan yang dulu. Cobalah datang siang hari di saat matahari tepat di atas kepala kita agak miring sedikit sih, karena kan tidak tepat sekali di garis khatulistiwa. Kalau yang tepat melalui garis khatulistiwa di Indonesia ada, namanya Kota Pontianak. Ada lagi cerita baru, melalui cerita ini. Aku sudah jarang pulang ke Rumah di saat pagi-pagi seperti jam 6 pagi. Biasanya sih jam 4 pagi. Rumahku di daerah Pasar Minggu, sebuah daerah yang strategis karena ada terminal, stasiun dan pasar menjadi satu kompleks. Aku pulang dari daerah tebet tidak terlalu jauh dari rumahku hanya satu kali naik bus, menuju ke pasar minggu, menaiki bus Metro Mini 62 yang mayoritas supirnya adalah orang ber-etnis Padang. Aku selalu duduk di depan, selain untuk menghindari aksi pemalakan (karena dekat sopir jadi merasa aman), aku juga senang memperhatikan jalanan dari tempat ku duduk. Saat itu ada yang lain, pagi itu cerah. Aku bisa Melihat gunung Gede-Pangrango dan Salak (pilih salah satu soalnya aku berdebat dengan temanku tentang masalah ini, gunung apa yang terlihat) dari kejauhan. Indah sekali, di tengah suasana bising ini aku masih dapat melihat kesejukan di sana. Aku sampai di depan gang rumahku berjarak sekitar 500 meter dari rumahku, dan baru kali ini aku dapat melihat gunung itu saat aku berjalan pulang, padahal sebelumnya tidak. Aku sendiri merasa aneh dengan pemandangan itu.
Oh iya melanjutkan cerita yang utama, (baca paragraf sebelum ini dari awal) cobalah kau datang dengan menggunakan jaket, karena sehabis berkendara sepeda motor. Dan kau akan datang melihatku duduk di depan komputer tanpa menggunakan baju. Memakai celana tentunya.
Panas, boosss!!!
Atap ku hanya berjarak setengah meter kurang dari kepalaku. Dan berbahan asbes dengan lapisan bawah tripleks.
Ah sudahlah datang saja sendiri untuk merasakannya.
Dan kalau aku mencoba dengan susah payah untuk tidur siang, tidak akan bisa dengan nyenyak. Yang ada bukan sehat tapi panas.
Bagaimana tidak, sudah udara panas, tidak ada kipas angin, kau tahu kasurku? Kasurku itu dari busa. Dan ternyata busa itu menyerap panas.
Iya ya?
Paham kan?
Aku tidur dengan udara panas dan kasur yang panas.
Sekedar informasi juga, kasur yang aku gunakan untuk tidur juga oleh-oleh bapakku dari kantor. Karena semua taruna memakai kasur yang sama dengan kasurku untuk tidur. Dan untuk informasi juga, komputerku yang saat ini aku pakai untuk menulis, juga bukan oleh-oleh bapakku dari kantor.
Loh?
Tetapi bapakku membeli komputer untuk kantor, dan kalau ada uang sisa dia membelikan peralatan komputer pribadi.
Oh.
Yah paling tidak bukan oleh-oleh dari kantor secara langsung, hitung-hitung sebagai bonus. Paling tidak komputer itu sangat berguna untukku sekarang. Bermain komputer terus di kamar yang panas ini juga membuat ku bosan. Bosan dan bosan. Semakin lama aku bosan di kamar terus, aku pingin jalan-jalan dan mempunyai kamar sendiri yang tidak bergantung dengan kemampuan orang tua. Saat aku kumpul dengan teman kuliahku, dengan semangat anak-anak yang ingin melakukan perubahan.
Perubahan muka untuk mendapatkan perempuan cantik.
Terbersitlah sebuah kost.
Loh?
Kost dan Kontrak.
Berhenti menulis sebentar, mau ke bawah. Melihat keadaan dan mem-foto keadaan, sambil mencari inspirasi…..
……………….
Membakar rokok sebatang, satu batang untuk 15 menit ke depan…
………………..
Dari dulu sampai sekarang (dulu kapan? Gak tau, gak inget).
Aku tidak mengerti apa makna kata dari kost? Ada yang atau gak? Kalau menurut pengertianku sendiri sih, sebuah kompleks kamar petak berukuran 2 kali 3 sampai 6 kali 10, kali, mana aku tahu? Di sewakan oleh yang punya rumah, kepada anak-anak mahasiswa dan orang kantoran pada umumnya, berkisar harganya antara 250 sampai 500 ribu per bulan.
Sialan, nih monitor minta dipukul kali!
Hidup komunal bersama teman-teman seperjuangan, berusaha mendapatkan uang dari orang tua atau usaha sendiri untuk patungan membayar kamar kost per bulan. Dengan ukuran 5 kali 7 (kira-kira) cukup besar untuk kandang ayam. Dengan diisi sebuah komputer, sebuah lemari pakaian bekas, sebuah meja kecil yang digunakan untuk tatakan komputer, sebuah tempat sampah, sebuah karpet besar, sebuah kipas angin gantung bekas, sebuah rak sepatu, 4 buah kasur, 3 seprei pinjaman, 3 buah bantal, dan 3 buah kunci pintu, untuk menampung 15 orang kalau sedang full team atau 5 orang hari-hari biasa.
Hari minggu, libur.
Niat untuk hidup mandiri tampaknya sulit kalau tinggal di kost-kostan apalagi hidup bersama dengan manusia-manusia tak tentu arah. Laki-laki semua.
Hiks.
Kalau tidak diskusi mingguan serius (itu juga jalan bulan pertama), sisanya adalah curhat (cucur hangat, enak kalau pagi-pagi). 10% masalah intelektual, 15% masalah kampus dan hidup, 5% agama, 70% Perempuan.
Ya, tampaknya juga menjadi obrolan yang enak untuk di diskusikan, berhubung aku pun termasuk jomblo akut, bayangkan, 5 tahun!. Capek deh.
Aku lupa berapa bulan di kostan, yang pasti, pertama kali aku yang mencari tempat itu aku membayarnya untuk bulan pertama, dan aku panggil teman-teman untuk menempati kost-anku karena berhubung aku bekerja. Dan rumahku tidak jauh dibandingkan dengan kostan dari kantorku. Alhasil aku jarang ke kostan. Sampai pada niat untuk pindah ke kontrakan aja yang baru bukan kostan. Kalau kostan berbentuk kamar, kontrakan berbentuk rumah.
Yah gitu deh.
Tidak jauh juga dari kostan, masih sekitar kampus. Aku menemukan sebuah kontrakan baru, dengan harga 250 ribu per bulan. Kamar baru, kamar mandi baru, letaknya di lantai dua. Dengan sebuah pohon besar di depan pintu. Masih terdengar suara halus kebisingan jalanan dan kereta listrik, tidak lupa pintu kereta yang berbunyi aneh itu.
ting..tong…ting…tong…
asri.
segar.
Walaupun tetap panas di siang hari. Sial. Aku rasanya tidak pernah jauh dari panas dan lantai 2. Kejadiannya sama dengan mencari kostan. Tetapi sekarang aku tinggal disana.
Yah, boleh dikatakan seperti itu.
Bulan pertama, Setiap Minggu, 5 hari di kontrakan, 2 hari di rumah
Bulan kedua, Setiap dua minggu, 12 hari di kontrakan, 2 hari di rumah.
Bulan ketiga dan seterusnya, 1 atau 2 hari dirumah, tidak rutin.
Sisanya menginap di kontrakan.
Aku semakin malas pulang ke rumah dengan keadaan seperti yang aku ceritakan tadi di atas. Bukan masalah keluarga, tetapi masalah ruang.
Tidak sebebas di kontrakan, walaupun tidak ada yang namanya privasi. Setelah hampir setengah tahun hidup seperti itu.
Aku merasa rindu.
Rumah.
Rumah.
Aku ingin pulang ke rumah.
Rumah yang seperti apa?
Entahlah, sebuah ruang yang dapat membuatku nyaman, tempat aku tidur, makan, bercengkrama, bergerak, mandi, apapun bentuknya itu. sebuah ruang yang membuat aku serasa seperti di rumah.
Iya aku tahu, tapi yang seperti apa?
Entahlah, suatu ruang yang dapat melindungiku dari panas, hujan ataupun maling.
Terus?
Ya, aku juga belum tahu makna itu sebenarnya.
Apa? Rumah?
Bukan. Uang.
Ya rumahlah.
Iya, iya. Memang kamu maunya yang seperti apa? Bukankah rumahmu itu yang bersama orangtua mu. Tempat mu merasa dilindungi.
Ya bisa saja.
Terus?
Akupun memiliki kebutuhan, begitu juga denganmu. Betul tidak?
Iya.
Kebutuhanku secara fisik, dalam hal ini adalah ruang. Dan untuk memenuhi keinginanku secara psikis.
Tapi kan memang kau sudah memiliki rumah, yang dari dulu kau tinggali bersama orang tuamu dan adik-adikmu. Yang dapat memenuhi kedua kebutuhan mu itu?
Iya sih, mungkin untuk saat ini itu adalah rumahku dan tempatku untuk pulang dan bermain komputer. Berkelakuan seperti dulu lagi. Buka baju, Panas-panasan atau temanku datang untuk bertanya:
Sumur lo kering?
Bercanda bersama teman-teman tentang masa lalu yang buruk dan meng asyikkan.
Panas-panasan.
Memecahkan kaca.
Dimarahi.
Perhatian Mamah.
Mendapat oleh-oleh dari bapak.
Melihat Adik-adik.
Bermain gitar di depan teras kamarku di sebuah sofa.
Ataupun sekedar merenung.
………………..
Moon over bourbon street-Sting
Tidak ada hubungannya, kalaupun ada hubungannya itu mungkin sengaja di hubung-hubungkan…
Tetapi ketika menulis ini aku sedang mendengarkan lagu itu, merokok, dan membuka baju. di depan komputer bututku di rumah bersama orang tua-ku dan adik2ku yang sudah terlelap. Ditemani oleh bau bangkai kucing yang telah mati selama 2 minggu dekat jendela yang kupecahkan dan kuganti dengan tripleks. Aku malas menguburnya toh aku jarang pulang.
Sambil menulis cerita ini.
Aku tetap berpikir dan merenung.
Aku sudah pulang?
………………….
Jakarta, Maret 2006
Recent Comments